You are currently browsing the monthly archive for May 2009.

Mumpung masih segar dalam ingatan, berikut ini catatan perjalanan ke Vietnam baru-baru ini.

Bandara Noi Bai di Hanoi cukup bagus, meski bukan bandara besar. Mungkin seukuran bandara di Bali atau Jogja. Setelah membereskan urusan imigrasi dan mengambil bagasi, saya langsung mencari-cari konter Asia Pacific tur. Sejak awal saya memang sudah berniat menggunakan paket tur yang mereka tawarkan, sebab mereka bekerja sama dengan pemerintah Vietnam dan banyak direkomendasikan di blog-blog para traveller yang saya baca. Konter mereka tidak jauh dari pintu keluar. Petugasnya sangat ramah dan bisa berbahasa Inggris lumayan bagus. Saya menanyakan paket ke Halong Bay, tujuan utama saya datang ke Vietnam. Konon rugi besar kalau ke Vietnam tanpa melihat Halong Bay. Semula saya berniat ikut paket satu hari saja, yang harganya USD 32, tapi dia bilang sayang kalau hanya sehari, sebab menikmati Halong Bay tidak akan cukup kalau hanya 5 jam. Dia menyarankan ikut paket 2 hari 1 malam, yang Standar USD 60, Superior USD 79, Deluxe USD 89. Bedanya adalah jenis kapalnya. Kapal Superior dan Deluxe lebih besar dan lebih bagus. Akhirnya saya pilih paket Superior (dan terbukti tidak menyesal memilih ini). Dia juga menyarankan memesan taksi sekalian untuk antar-jemput ke dan dari hotel nanti, sebab taksi-taksi di Vietnam suka memasang tarif tinggi pada orang asing.

Setelah membereskan pembayaran, saya pun naik taksi ke hotel. Taksinya bukan taksi resmi, sepertinya mobil pribadi. Ternyata mobil-mobil di sini setir kiri semua. Sepanjang jalan tampak pemandangan kota Hanoi yang benar-benar jadul, seperti di Jakarta zaman Orde Lama. Jarang sekali ada rumah, tempat tinggal didominasi bangunan berlantai 2 atau 3 yang sempit dan panjang. Selain untuk menghindari pajak tinggi, bangunan-bangunan ini biasanya dihuni beberapa generasi dalam keluarga, dan tiap generasi tinggal di lantai yang berbeda. Di jalanan sama sekali tidak ada mobil bagus. Yang banyak adalah sepeda motor. Turun dari taksi, saya menyesal sekali tidak langsung memberikan tip kepada sopirnya. Saya pikir nanti dia juga yang akan menjemput ke hotel untuk mengantar kembali ke bandara. Ternyata tidak.

Old Quarters

Hotel saya terletak di tengah-tengah Old Quarters, di Hang Bac Street yang merupakan pusatnya backpackers. Di Old Quarters ini ada 36 jalan, masing-masing nama jalan menunjukkan jenis barang yang dulu dijual di sana. Hang Bac, misalnya, berarti Silver Street, dan dulu banyak barang-barang kerajinan perak dijual di sini. Tapi sekarang hanya beberapa toko yang benar-benar masih bertahan menjual barang yang menjadi ciri khasnya di jalan tertentu.

Pada pandangan pertama, Old Quarters tampak sangat memusingkan. Penuh toko-toko kecil dan ramai sekali dengan sepeda motor yang berseliweran, saling menyalip dan seperti tanpa aturan. Sebagian besar sepeda motor matic dan banyak juga sepeda motor tua yang sungguh ajaib masih bisa jalan. Dan kelihatannya orang-orang Hanoi suka sekali membunyikan klakson. Bising, ruwet, membuat saya merasa agak sesak napas, biarpun baru melihat dari balik taksi. Apalagi di tengah segala keruwetan itu juga banyak sepeda, cyclo alias becak, dan pedagang keliling. Jalanan-jalanan di Old Quarters ini seperti kaki-kaki gurita yang menyebar ke segala penjuru dan dari semua arah sepeda motor berdatangan.

Saya jadi ingat komentar salah seorang kenalan saya. Ketika tahu saya akan ke Hanoi, dia bilang, “Buat apa ke sana? Gak ada bagus-bagusnya. Panas, kuno, kayak Pasar Jatinegara. Gak ada mal-nya.” Dalam hati saya bilang, “Emang gue kagak nyari mal kok.” Saya tidak terlalu menghiraukan komentar-komentar seperti itu. Berdasarkan pengalaman, saya belajar bahwa sering kali kalau bertanya pada orang yang salah, bisa-bisa merusak mood. Selera orang kan beda-beda, jadi lebih baik dijalani saja langsung.

Buat saya, Old Quarters amat sangat menarik. Sejak dulu saya suka sekali jalan kaki keluar-masuk gang-gang kecil, makan di warung-warung atau rumah makan kecil, atau minum jus di pinggir jalan sambil memandangi orang lewat. Jadi, tidak menyesal datang ke tempat yang tidak ada mal-nya ini. Setelah menaruh tas di hotel, langsung pergi lagi untuk… makan. Jalan kaki sedikit, ketemu rumah makan yang agak besar dan tidak terlalu ramai. Menunya sebagian besar Chinese food, dengan pilihan macam-macam daging, mulai dari ayam, ikan, sapi, babi, bahkan anjing (duh). Enggak terlalu enak (kecuali lumpia-nya, enak sekali), tapi lumayan deh, daripada jalan-jalan dengan perut kosong.

Selesai makan, mulailah menjelajahi Old Quarters. Semula saya berniat menyusuri ke-36 jalan di Old Quarters itu, tapi rasanya bakal gempor deh, lagi pula waktunya tidak akan cukup. Jadi, setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan naik cyclo saja. Di hotel, sudah disarankan agar sebelum naik, dipastikan dulu tarifnya berapa, supaya nanti tidak ada kesalahpahaman. Tapi pada prakteknya, tetap saja si tukang becak ngotot minta bayaran lebih mahal, plus tip.

Anyway, saya keliling-keliling naik cyclo sekitar tiga jam-an, banyak berhenti di sana-sini untuk melihat-lihat. Sebenarnya saya tertarik sekali ingin membeli Ao Dai, baju tradisional Vietnam yang panjang dan dipadukan dengan celana panjang longgar. Tapi setelah beberapa kali mencoba yang sudah jadi, tidak ada yang benar-benar pas. Kayaknya memang lebih baik menjahitkan daripada membeli yang sudah jadi. Banyak toko kain yang bisa sekalian menjahitkan, tapi berhubung saya malas kalau mesti menjahitkan segala, akhirnya batal deh. Lanjut naik cyclo. Rute terakhir adalah melewati Hoan Kim Lake. Di Hoan Kim Lake ini para penduduk lokal bersantai dan berolahraga. Pagi-pagi atau sore biasanya banyak orang tua yang melakukan Taichi di sini. Tapi kalau sudah menjelang gelap harus waspada, sebab banyak copet/jambret yang beroperasi di Danau ataupun mencari sasaran orang-orang yang sedang naik cyclo.

Malam hari, jalan-jalan lagi sekalian makan malam. Banyak penjual makanan di pinggir jalan. Ada satu warung bakmi yang jadi sasaran saya. Sejak siang, sudah berminat makan di situ, tapi kehabisan. Rupanya sore hari warung itu buka lagi. Cepat-cepat saya masuk ke situ dan memesan bakmi. Warung itu sempit sekali, hanya ada dua meja panjang dengan bangku-bangku panjang. Saya kebagian duduk paling pojok, di depan saya ada oma-oma yang sedang makan nasi dan lobak dengan lahapnya. Di atas saya ada kipas angin yang dipasang maksimum. Saya paling tidak tahan kipas angin, padahal di Old Quarters ini di mana-mana ada kipas angin dan semuanya dipasang maksimum. Saya coba mengecilkan nyala kipas itu, tapi enggak bisa. Akhirnya kipas itu dimatikan oleh si Oma yang terus saja senyam-senyum melihat saya, entah kenapa. Baru saja saya senang sedikit karena kipas sudah mati, engkoh-engkoh di ujung bangku mengomel-ngomel sambil cemberut. Rupanya dia kepanasan, apalagi sambil makan bakmi yang panas dan pedas. Yaah, akhirnya dinyalakan lagi deh kipas itu. O ya, bakminya enak, khas bakmi Vietnam, kuahnya segar sekali, apalagi setelah ditambah perasan jeruk. Tapi terlalu banyak pork-nya. Daripada mabok, semua pork saya singkirkan.

Acara jalan-jalan diakhiri jam sepuluh malam. Besok mesti bangun pagi-pagi, sebab akan pergi ke Halong Bay.

Halong Bay

Sebelum baca ceritanya, lihat-lihat dulu foto-fotonya di bawah ini:

Ada-ada saja cara orang berpromosi dan membujuk supaya produknya dibeli. Gw sebenarnya paling malas kalau lagi jalan di mal lalu dicegat sales people yang menawarkan gratis inilah gratis itulah. Tapi tadi entah kenapa gw dengan isengnya mau aja ditawarin bolpoin. Setelah itu, ujung-ujungnya ya promosilah. Mereka sedang menawarkan kompor dingin Aowa buatan Jepang (itu lho, yang dipakai Rudy Choirudin di acara Foody with Rudy) yang harganya 9 juta koma sembilan ratus sembilan puluh ribu sekian. Gw pikir, okelah gw dengerin sebentar. Selesai menjelaskan, si mbak-nya bilang gw boleh ambil salah satu undian, karena sudah bersedia mendengarkan. Hadiahnya berkisar dari diskon sekian persen, sampai hadiah produk, bebas pajak dsb. Tapi kebanyakan isinya “Anda Belum Beruntung.” Begitu katanya. Gw ambil dan buka undian itu. Isinya ternyata gw mendapat gratis produk kompor dingin tsb. Surprise kan? Tapi gw yakin, ini pasti ada embel-embelnya. Benar aja. Si mbak minta gw ngomong langsung di telepon dengan bosnya, dan bosnya bilang ke gw bahwa gw akan mendapatkan kompor itu, tanpa biaya tambahan apa pun, tapiiii, gw harus bantu mempromosikan produk tsb., dengan cara bersedia difoto dan dimuat di majalah Nirmala. Gw gak percaya, masa sih cuma begitu. Pasti ada tapinya lagi. Dan benar juga. Selain jadi model amatir produk kompor, si kompor canggih itu baru boleh gw bawa pulang kalau gw membeli salah satu produk kategori A, yang harganya paling murah juga gak apa, dan nanti ini akan dijelaskan oleh karyawannya. Naaah, ini dia rupanya tujuan utamanya kan? Selain itu, dia juga tanya, gw pake kartu debit/kredit apa. Hmm, I smelled a rat. Gw jawab asal aja. Terus dia bilang mereka lagi ada kerja sama dengan bank penerbit kartu itu, jadi, sebagai tambahan, gw akan dapat hadiah lagi selain kompor, yaitu semacam alat pemijat. Owwww, so so generous ya. Kemudian si mbak yang tadi itu mulai menjelaskan lagi ke gw, sambil terus-menerus menekankan bahwa kompor itu harganya hampir 10 juta lho, GRATIS, plus alat pemijat. Gw tanya, yang dimaksud produk kategori A itu apa, tapi gw tegaskan juga bahwa gw tidak bermaksud beli APA PUN. Dia enggak langsung ngasih tahu produk A itu apa, malah ngomong panjang lebar bahwa mereka di sini bukan jualan, toh kalau mau jualan bisa mereka lakukan di showroom. Bahwa gw adalah pemenang nomor 9, dan untuk mal ini mereka punya jatah 30, jadi barangnya masih ada. Dan mereka tidak bermaksud jualan, mereka hanya sedang pameran, dan gw beruntung sekali menang undian berhadiah kompor seharga 9 juta sekian itu. Kompor ini canggih sekali, enggak bikin penggorengan gosong. Sementara itu, 2 sales lain ikutan ngajak gw ngomong, dan satu orang di antaranya ngambil penggorengan produk mereka juga, sambil mulai promosiin barang itu. Jadi, mereka ngomong susul-menyusul. Gw mulai gak sabar. Ini pasti disengaja, pikir gw. Gw sela aja omongannya, dan gw tanya lagi produk kategori A itu apa dan harganya berapa. Barulah si mbak buka-buka katalog dan mulai nawar-nawarin berbagai produk di dalamnya serta keistimewaan produk-produk itu, tapi dia tetap gak mau nyebutin harganya. Gw desak terus, dan akhirnya dia bilang, yang paling murah itu air purifier dan harganya 20 juta. Gilaaa, jadi semurni apa ya udara yang di-purify dengan alat seharga 20 juta? Jadiiii, untuk mendapatkan kompor yang (katanya) berharga 9 juta sekian, gw mesti keluarin uang 20 juta? I Knew it!!! Gw langsung bilang, “Maaf ya, Mbak. Saya enggak butuh air purifier dan saya memang enggak ingin beli apa-apa.” Lalu pergilah gw. Si mbak kelihatan kecewa banget. Belakangan, gw baca di Detik forum, cara ini sudah sering diterapkan dan banyak yang terbujuk untuk beli. Ada juga yang bilang ini penipuan karena ada yang sampai memberikan kartu kredit, katanya sekadar dilihat, ternyata langsung digesek. Atau rasanya seperti terhipnotis begitu masuk counter mereka. Yah, susah juga sih. Sebenarnya memang tergantung kita sendiri, gampang terbujuk atau enggak. Gw tidak tahu soal dihipnotis ini benar atau tidak, tapi gw rasa mungkin ada orang-orang yang enggak enak bilang “Tidak,” setelah dikasih tahu dapat hadiah, atau jadi bingung karena diajak ngomong beberapa orang sekaligus, ditawari macam-macam, akhirnya enggak fokus dan otomatis mengiyakan aja dan menyerahkan kartu kreditnya. Yang paling aman sih jangan tergiur tawaran-tawaran model begini.

O ya, waktu gw mau keluar dari mal itu, lagi-lagi gw dicegat salah satu sales mereka (mereka nyebarnya cukup jauh dari counter dan agresif sekali mengejar orang). Langsung aja gw ambil bolpoin yg ditawarkan, bilang “Thanks” sambil terus jalan. Lumayan, dapat gratis 2 bolpoin buat nambah koleksi gw.

Will be leaving for Vietnam in a few days. Have been planning what to see and visit. Due to the very limited time, I think I’ll just go around Hanoi a bit, and of course to Halong Bay. It’s a must, so they said who had been there. I would like to go to Ho Chi Minh City as well, doing a bit of trekking, and take a boat along the Mekong River delta. But these must wait. Hopefully another time.

What I hate most in travelling is packing and sitting still in an airplane. I’m always travelling as light as possible, but still the task of choosing which clothes and shoes and other necessities to take with me is a chore and a bore. And I am almost always restless during the flight. Reading, computer games, or watching movies are not for me, since I cannot really focus on such things during a flight. It’s good that the flight to Vietnam will only take a couple of hours from KL, so I won’t be cooped up for too long in the plane.

You can say that this trip is not really well-planned. It’s more or less spontaneous. I’ve been thinking about going to Vietnam for a couple of years but never really put my mind to it. Then one day suddenly the time seems just right, and everything starts to fall into place.

Hopefully things will turn out well and enjoyable too. I’ll be back with the Vietnam trip report later.

Mencari rumah maya tidak bisa dibilang gampang. Meski sudah melihat-lihat sekian banyak desain potensial, selalu saja ada yang kurang. Kadang background-nya atau modelnya secara umum sudah cocok, tapi ada detail kecil yang tidak sesuai keinginan, misalnya ruang teks utama terlalu kecil, atau terlalu lebar. Bisa juga semuanya sudah oke tapi warnanya tidak cocok. Pokoknya ada saja deh. Saya begitu “rese” memilih karena biarpun hanya rumah maya, saya ingin rumah ini menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan, dan tidak membuat saya bosan untuk pulang. Apalagi saya bukan tipe yang senang gonta-ganti model blog.

Desain yang saya pilih ini diperoleh setelah mencari-cari selama beberapa hari. Begitu melihat, langsung naksir dengan kesederhanaannya dan warnanya yang hijau segar. Rasanya saya bakal betah sering-sering menengok rumah ini.