Mumpung masih segar dalam ingatan, berikut ini catatan perjalanan ke Vietnam baru-baru ini.
Bandara Noi Bai di Hanoi cukup bagus, meski bukan bandara besar. Mungkin seukuran bandara di Bali atau Jogja. Setelah membereskan urusan imigrasi dan mengambil bagasi, saya langsung mencari-cari konter Asia Pacific tur. Sejak awal saya memang sudah berniat menggunakan paket tur yang mereka tawarkan, sebab mereka bekerja sama dengan pemerintah Vietnam dan banyak direkomendasikan di blog-blog para traveller yang saya baca. Konter mereka tidak jauh dari pintu keluar. Petugasnya sangat ramah dan bisa berbahasa Inggris lumayan bagus. Saya menanyakan paket ke Halong Bay, tujuan utama saya datang ke Vietnam. Konon rugi besar kalau ke Vietnam tanpa melihat Halong Bay. Semula saya berniat ikut paket satu hari saja, yang harganya USD 32, tapi dia bilang sayang kalau hanya sehari, sebab menikmati Halong Bay tidak akan cukup kalau hanya 5 jam. Dia menyarankan ikut paket 2 hari 1 malam, yang Standar USD 60, Superior USD 79, Deluxe USD 89. Bedanya adalah jenis kapalnya. Kapal Superior dan Deluxe lebih besar dan lebih bagus. Akhirnya saya pilih paket Superior (dan terbukti tidak menyesal memilih ini). Dia juga menyarankan memesan taksi sekalian untuk antar-jemput ke dan dari hotel nanti, sebab taksi-taksi di Vietnam suka memasang tarif tinggi pada orang asing.
Setelah membereskan pembayaran, saya pun naik taksi ke hotel. Taksinya bu
kan taksi resmi, sepertinya mobil pribadi. Ternyata mobil-mobil di sini setir kiri semua. Sepanjang jalan tampak pemandangan kota Hanoi yang benar-benar jadul, seperti di Jakarta zaman Orde Lama. Jarang sekali ada rumah, tempat tinggal didominasi bangunan berlantai 2 atau 3 yang sempit dan panjang. Selain untuk menghindari pajak tinggi, bangunan-bangunan ini biasanya dihuni beberapa generasi dalam keluarga, dan tiap generasi tinggal di lantai yang berbeda. Di jalanan sama sekali tidak ada mobil bagus. Yang banyak adalah sepeda motor. Turun dari taksi, saya menyesal sekali tidak langsung memberikan tip kepada sopirnya. Saya pikir nanti dia juga yang akan menjemput ke hotel untuk mengantar kembali ke bandara. Ternyata tidak.
Old Quarters
Hotel saya terletak di tengah-tengah Old Quarters, di Hang Bac Street yang merupakan pusatnya backpackers. Di Old Quarters ini ada 36 jalan, masing-masing nama jalan menunjukkan jenis barang yang dulu dijual di sana. Hang Bac, misalnya, berarti Silver Street, dan dulu banyak barang-barang kerajinan perak dijual di sini. Tapi sekarang hanya beberapa toko yang benar-benar masih bertahan menjual barang yang menjadi ciri khasnya di jalan tertentu.
Pada pandangan pertama, Old Quarters tampak sangat memusingkan. Penuh toko-toko kecil dan ramai sekali dengan sepeda motor yang berseliweran, saling menyalip dan seperti tanpa aturan. Sebagian besar sepeda motor matic dan banyak juga sepeda motor tua yang sungguh ajaib masih bisa jalan. Dan kelihatannya orang-orang Hanoi suka sekali membunyikan klakson. Bising, ruwet, membuat saya merasa agak sesak napas, biarpun baru melihat dari balik taksi. Apalagi di tengah segala keruwetan itu juga banyak sepeda, cyclo alias becak, dan pedagang keliling. Jalanan-jalanan di Old Quarters ini seperti kaki-kaki gurita yang menyebar ke segala penjuru dan dari semua arah sepeda motor berdatangan.
Saya jadi ingat komentar salah seorang kenalan saya. Ketika tahu saya akan ke Hanoi, dia bilang, “Buat apa ke sana? Gak ada bagus-bagusnya. Panas, kuno, kayak Pasar Jatinegara. Gak ada mal-nya.” Dalam hati saya bilang, “Emang gue kagak nyari mal kok.” Saya tidak terlalu menghiraukan komentar-komentar seperti itu. Berdasarkan pengalaman, saya belajar bahwa sering kali kalau bertanya pada orang yang salah, bisa-bisa merusak mood. Selera orang kan beda-beda, jadi lebih baik dijalani saja langsung.
Buat saya, Old Quarters amat sangat menarik. Sejak dulu saya suka sekali jalan kaki keluar-masuk gang-gang kecil, makan di warung-warung atau rumah makan kecil, atau minum jus di pinggir jalan sambil memandangi orang lewat. Jadi, tidak menyesal datang ke tempat yang tidak ada mal-nya ini. Setelah menaruh tas di hotel, langsung pergi lagi untuk… makan. Jalan kaki sedikit, ketemu rumah makan yang agak besar dan tidak terlalu ramai. Menunya sebagian besar Chinese food, dengan pilihan macam-macam daging, mulai dari ayam, ikan, sapi, babi, bahkan anjing (duh). Enggak terlalu enak (kecuali lumpia-nya, enak sekali), tapi lumayan deh, daripada jalan-jalan dengan perut kosong.
Selesai makan, mulailah menjelajahi Old Quarters. Semula saya berniat menyusuri ke-36 jalan di Old Quarters itu, tapi rasanya bakal gempor deh, lagi pula waktunya tidak akan cukup. Jadi, setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan naik cyclo saja. Di hotel, sudah disarankan agar sebelum naik, dipastikan dulu tarifnya berapa, supaya nanti tidak ada kesalahpahaman. Tapi pada prakteknya, tetap saja si tukang becak ngotot minta bayaran lebih mahal, plus tip.
Anyway, saya keliling-keliling naik cyclo sekitar tiga jam-an, banyak berhenti di sana-sini untuk melihat-lihat. Sebenarnya saya tertarik sekali ingin membeli Ao Dai, baju tradisional Vietnam yang panjang dan dipadukan dengan celana panjang longgar. Tapi setelah beberapa kali mencoba yang sudah jadi, tidak ada yang benar-benar pas. Kayaknya memang lebih baik menjahitkan daripada membeli yang sudah jadi. Banyak toko kain yang bisa sekalian menjahitkan, tapi berhubung saya malas kalau mesti menjahitkan segala, akhirnya batal deh. Lanjut naik cyclo. Rute terakhir adalah melewati Hoan Kim Lake. Di Hoan Kim Lake ini para penduduk lokal bersantai dan berolahraga. Pagi-pagi atau sore biasanya banyak orang tua yang melakukan Taichi di sini. Tapi kalau sudah menjelang gelap harus waspada, sebab banyak copet/jambret yang beroperasi di Danau ataupun mencari sasaran orang-orang yang sedang naik cyclo.
Malam hari, jalan-jalan lagi sekalian makan malam. Banyak penjual makanan di pinggir jalan. Ada satu warung bakmi yang jadi sasaran saya. Sejak siang, sudah berminat makan di situ, tapi kehabisan. Rupanya sore hari warung itu buka lagi. Cepat-cepat saya masuk ke situ dan memesan bakmi. Warung itu sempit sekali, hanya ada dua meja panjang dengan bangku-bangku panjang. Saya kebagian duduk paling pojok, di depan saya ada oma-oma yang sedang makan nasi dan lobak dengan lahapnya. Di atas saya ada kipas angin yang dipasang maksimum. Saya paling tidak tahan kipas angin, padahal di Old Quarters ini di mana-mana ada kipas angin dan semuanya dipasang maksimum. Saya coba mengecilkan nyala kipas itu, tapi enggak bisa. Akhirnya kipas itu dimatikan oleh si Oma yang terus saja senyam-senyum melihat saya, entah kenapa. Baru saja saya senang sedikit karena kipas sudah mati, engkoh-engkoh di ujung bangku mengomel-ngomel sambil cemberut. Rupanya dia kepanasan, apalagi sambil makan bakmi yang panas dan pedas. Yaah, akhirnya dinyalakan lagi deh kipas itu. O ya, bakminya enak, khas bakmi Vietnam, kuahnya segar sekali, apalagi setelah ditambah perasan jeruk. Tapi terlalu banyak pork-nya. Daripada mabok, semua pork saya singkirkan.
Acara jalan-jalan diakhiri jam sepuluh malam. Besok mesti bangun pagi-pagi, sebab akan pergi ke Halong Bay.
Halong Bay







No comments yet
Comments feed for this article