You are currently browsing the monthly archive for July 2009.

Bukit Tinggi sungguh kota kecil yang cantik. Luasnya hanya seukuran Bogor, tapi tidak semrawut. Udaranya sejuk, dan setelah tengah hari pun mataharinya tidak terik. Dari bandara, perjalanan menuju Bukit Tinggi memakan waktu sekitar dua jam, melewati Lembah Anai dengan air terjunnya yang membuat orang ingin berhenti dan singgah sebentar untuk duduk-duduk di batu sambil mencelupkan kaki di airnya yang dingin, atau sekadar berfoto. Sayangnya ketika saya tiba di sini, hari sudah gelap, tapi air terjun itu masih kelihatan jelas, seperti selendang kabut yang turun deras. Agak aneh rasanya melihat ada air terjun di tepi jalan raya yang ramai dengan lalu lintas. Selewat Lembah Anai, perjalanan menuju Bukit Tinggi berlangsung lancar. Rencana perjalanan kali ini adalah mengunjungi Danau Maninjau, Danau Singkarak, Batu Sangkar, dan Lembah Harau.

Yang pertama disambangi adalah Danau Maninjau. Perjalanan berlangsung sekitar 2 jam, melewati kelokan-kelokan yang dikenal sebagai Kelokan Empat Puluh Empat, sebab jumlahnya memang ada 44 dan makin lama makin tajam kelokannya. Kalau ada kendaraan dari atas, otomatis kendaraan dari bawah harus berhenti dulu, menunggu sampai yang di atas itu lewat, dan di setiap kelokan selalu membunyikan klakson sebagai tanda bagi kendaraan dari arah berlawanan. Pemandangan sepanjang jalan sungguh luar biasa. Alam sekitar yang hijau sangat menyejukkan mata. Ketika kelokan sudah tinggal belasan, mulai tampak kera-kera kelabu di pinggir jalan. Tidak seperti kera-kera di Sangeh yang suka jahil, kera-kera di sini pemalu dan takut pada manusia. Itu sebabnya mereka baru terlihat di kelokan berangka belasan, sebab di daerah ini hutannya masih lebat dan relatif jauh dari gangguan manusia. Danau Maninjau tampak sangat cantik dilihat dari atas, dan berhubung ada begitu banyak kelokan, danau ini jadi seperti “berpindah-pindah” tempat setiap kali kita berbelok. Kadang danau berada di sebelah kiri, kadang di sebelah kanan. Setelah sampai, baru tampak keramba-keramba di tepi danau. Air danau yang tenang membuat orang senang bermain-main di tepiannya. Cukup banyak homestay di sana, rata-rata penghuninya adalah pelancong mancanegara. Turis-turis lokal biasanya lebih suka keramaian dan tempat-tempat shopping. Menyenangkan sekali bermain-main di danau, masuk ke airnya yang tenang dan mengejar-ngejar ikan-ikan kecil yang kelihatannya mudah ditangkap, tapi tidak pernah berhasil saya sergap. Sebenarnya betah juga main-main seharian di sana, tapi masih ada tempat-tempat lain yang ingin dikunjungi, jadi perjalanan pun dilanjutkan.

Danau Singkarak

Danau ini jauh berbeda dengan Danau Maninjau. Niat untuk main-main di airnya langsung padam begitu melihat air danau yang berombak kencang. Danau ini luas sekali, seperti laut, dan di kejauhan sana tampak deretan Bukit Barisan. Menurut orang setempat, air danau baru tenang selewat jam empat sore. Wah, masih lama sekali. Niat untuk naik perahu juga batal karena angin terlalu kencang. Jadilah cuma duduk-duduk saja di tepian. Menyenangkan sekali mendengar deru angin dan debur ombak, membuat mengantuk. Ditambah lagi suasana sekitar yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung lokal dan mancanegara di sini dan kelihatannya tidak ada homestay, tidak seperti di Maninjau.

Batu Sangkar

Di sini mengunjungi tempat bernama Tabek Patah, untuk menikmati kopi dari daun. Rasa kopi ini unik sekali, seperti teh. Cara membuatnya, daun kopi direbus. Segenggam saja sudah cukup untuk minum berkali-kali, bisa diseduh lagi dan lagi sampai warnanya hilang. Untuk pencandu berat kopi, kopi daun ini mungkin terlalu ringan. Tapi bolehlah untuk selingan. Kedai kopinya juga enak untuk tempat melepas lelah setelah setengah harian berjalan-jalan. Kebetulan ketika saya ke sana, tempat itu tidak terlalu ramai, masih ada beberapa bangku kosong. Kopi bisa diambil sendiri di meja, gratis, ada kopi daun biasa, ada kopi daun strawberi, dan kita juga bisa mencicipi pisang sale yang merupakan makanan khas daerah di sini. Sambil minum kopi, bisa menikmati pemandangan Gunung Singgalang di kejauhan, atau jalan-jalan di kebun kecil di situ.

Lembah Harau

I’m saving the best for last. Buat saya, tempat paling menakjubkan dalam perjalanan kali ini adalah Lembah Harau di Payakumbuh. Tempat ini sungguh fantastis, seperti sebuah Grand Canyon mini, dengan tebing-tebing tegak lurus yang dahsyat serta alam hijau yang asri di sekitarnya. Begitu melihat tempat ini, I know I will come back here for a longer visit. Ada penginapan yang oke di sini, yaitu Echo Homestay. Penginapan minimalis yang terdiri atas bungalow-bungalow bergaya etnik. Interiornya dari kayu, kamar mandinya di luar, beratap langit. Homestay ini letaknya di atas bukit, dan mesti melewati jembatan serta sawah-sawah untuk sampai ke sana. Fasilitasnya bagus, dan ada televisi buat yang tidak bisa hidup tanpa TV. Bisa menyewa sepeda atau sepeda motor untuk jalan-jalan ke kota Payakumbuh dan sekitarnya.

Saya sangat takjub melihat alam di Harau ini, dan saya juga jadi bertanya-tanya, sampai kapan tempat ini akan tetap asri dengan sawah-sawahnya, tebing-tebingnya, dan air-air terjunnya. Buat saya, daya tarik tempat-tempat seperti ini, selain pada keindahan alamnya, adalah pada ketenangannya. It annoys me terribly if the peace and quiet is suddenly disturbed by loud music or thoughtless partying. But it is inevitable, when new hotels start sprouting and more people are coming.