You are currently browsing the category archive for the 'bits and pieces' category.

Ada-ada saja cara orang berpromosi dan membujuk supaya produknya dibeli. Gw sebenarnya paling malas kalau lagi jalan di mal lalu dicegat sales people yang menawarkan gratis inilah gratis itulah. Tapi tadi entah kenapa gw dengan isengnya mau aja ditawarin bolpoin. Setelah itu, ujung-ujungnya ya promosilah. Mereka sedang menawarkan kompor dingin Aowa buatan Jepang (itu lho, yang dipakai Rudy Choirudin di acara Foody with Rudy) yang harganya 9 juta koma sembilan ratus sembilan puluh ribu sekian. Gw pikir, okelah gw dengerin sebentar. Selesai menjelaskan, si mbak-nya bilang gw boleh ambil salah satu undian, karena sudah bersedia mendengarkan. Hadiahnya berkisar dari diskon sekian persen, sampai hadiah produk, bebas pajak dsb. Tapi kebanyakan isinya “Anda Belum Beruntung.” Begitu katanya. Gw ambil dan buka undian itu. Isinya ternyata gw mendapat gratis produk kompor dingin tsb. Surprise kan? Tapi gw yakin, ini pasti ada embel-embelnya. Benar aja. Si mbak minta gw ngomong langsung di telepon dengan bosnya, dan bosnya bilang ke gw bahwa gw akan mendapatkan kompor itu, tanpa biaya tambahan apa pun, tapiiii, gw harus bantu mempromosikan produk tsb., dengan cara bersedia difoto dan dimuat di majalah Nirmala. Gw gak percaya, masa sih cuma begitu. Pasti ada tapinya lagi. Dan benar juga. Selain jadi model amatir produk kompor, si kompor canggih itu baru boleh gw bawa pulang kalau gw membeli salah satu produk kategori A, yang harganya paling murah juga gak apa, dan nanti ini akan dijelaskan oleh karyawannya. Naaah, ini dia rupanya tujuan utamanya kan? Selain itu, dia juga tanya, gw pake kartu debit/kredit apa. Hmm, I smelled a rat. Gw jawab asal aja. Terus dia bilang mereka lagi ada kerja sama dengan bank penerbit kartu itu, jadi, sebagai tambahan, gw akan dapat hadiah lagi selain kompor, yaitu semacam alat pemijat. Owwww, so so generous ya. Kemudian si mbak yang tadi itu mulai menjelaskan lagi ke gw, sambil terus-menerus menekankan bahwa kompor itu harganya hampir 10 juta lho, GRATIS, plus alat pemijat. Gw tanya, yang dimaksud produk kategori A itu apa, tapi gw tegaskan juga bahwa gw tidak bermaksud beli APA PUN. Dia enggak langsung ngasih tahu produk A itu apa, malah ngomong panjang lebar bahwa mereka di sini bukan jualan, toh kalau mau jualan bisa mereka lakukan di showroom. Bahwa gw adalah pemenang nomor 9, dan untuk mal ini mereka punya jatah 30, jadi barangnya masih ada. Dan mereka tidak bermaksud jualan, mereka hanya sedang pameran, dan gw beruntung sekali menang undian berhadiah kompor seharga 9 juta sekian itu. Kompor ini canggih sekali, enggak bikin penggorengan gosong. Sementara itu, 2 sales lain ikutan ngajak gw ngomong, dan satu orang di antaranya ngambil penggorengan produk mereka juga, sambil mulai promosiin barang itu. Jadi, mereka ngomong susul-menyusul. Gw mulai gak sabar. Ini pasti disengaja, pikir gw. Gw sela aja omongannya, dan gw tanya lagi produk kategori A itu apa dan harganya berapa. Barulah si mbak buka-buka katalog dan mulai nawar-nawarin berbagai produk di dalamnya serta keistimewaan produk-produk itu, tapi dia tetap gak mau nyebutin harganya. Gw desak terus, dan akhirnya dia bilang, yang paling murah itu air purifier dan harganya 20 juta. Gilaaa, jadi semurni apa ya udara yang di-purify dengan alat seharga 20 juta? Jadiiii, untuk mendapatkan kompor yang (katanya) berharga 9 juta sekian, gw mesti keluarin uang 20 juta? I Knew it!!! Gw langsung bilang, “Maaf ya, Mbak. Saya enggak butuh air purifier dan saya memang enggak ingin beli apa-apa.” Lalu pergilah gw. Si mbak kelihatan kecewa banget. Belakangan, gw baca di Detik forum, cara ini sudah sering diterapkan dan banyak yang terbujuk untuk beli. Ada juga yang bilang ini penipuan karena ada yang sampai memberikan kartu kredit, katanya sekadar dilihat, ternyata langsung digesek. Atau rasanya seperti terhipnotis begitu masuk counter mereka. Yah, susah juga sih. Sebenarnya memang tergantung kita sendiri, gampang terbujuk atau enggak. Gw tidak tahu soal dihipnotis ini benar atau tidak, tapi gw rasa mungkin ada orang-orang yang enggak enak bilang “Tidak,” setelah dikasih tahu dapat hadiah, atau jadi bingung karena diajak ngomong beberapa orang sekaligus, ditawari macam-macam, akhirnya enggak fokus dan otomatis mengiyakan aja dan menyerahkan kartu kreditnya. Yang paling aman sih jangan tergiur tawaran-tawaran model begini.

O ya, waktu gw mau keluar dari mal itu, lagi-lagi gw dicegat salah satu sales mereka (mereka nyebarnya cukup jauh dari counter dan agresif sekali mengejar orang). Langsung aja gw ambil bolpoin yg ditawarkan, bilang “Thanks” sambil terus jalan. Lumayan, dapat gratis 2 bolpoin buat nambah koleksi gw.

Mencari rumah maya tidak bisa dibilang gampang. Meski sudah melihat-lihat sekian banyak desain potensial, selalu saja ada yang kurang. Kadang background-nya atau modelnya secara umum sudah cocok, tapi ada detail kecil yang tidak sesuai keinginan, misalnya ruang teks utama terlalu kecil, atau terlalu lebar. Bisa juga semuanya sudah oke tapi warnanya tidak cocok. Pokoknya ada saja deh. Saya begitu “rese” memilih karena biarpun hanya rumah maya, saya ingin rumah ini menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan, dan tidak membuat saya bosan untuk pulang. Apalagi saya bukan tipe yang senang gonta-ganti model blog.

Desain yang saya pilih ini diperoleh setelah mencari-cari selama beberapa hari. Begitu melihat, langsung naksir dengan kesederhanaannya dan warnanya yang hijau segar. Rasanya saya bakal betah sering-sering menengok rumah ini.