You are currently browsing the category archive for the 'travels' category.
Bukit Tinggi sungguh kota kecil yang cantik. Luasnya hanya seukuran Bogor, tapi tidak semrawut. Udaranya sejuk, dan setelah tengah hari pun mataharinya tidak terik. Dari bandara, perjalanan menuju Bukit Tinggi memakan waktu sekitar dua jam, melewati Lembah Anai dengan air terjunnya yang membuat orang ingin berhenti dan singgah sebentar untuk duduk-duduk di batu sambil mencelupkan kaki di airnya yang dingin, atau sekadar berfoto. Sayangnya ketika saya tiba di sini, hari sudah gelap, tapi air terjun itu masih kelihatan jelas, seperti selendang kabut yang turun deras. Agak aneh rasanya melihat ada air terjun di tepi jalan raya yang ramai dengan lalu lintas. Selewat Lembah Anai, perjalanan menuju Bukit Tinggi berlangsung lancar. Rencana perjalanan kali ini adalah mengunjungi Danau Maninjau, Danau Singkarak, Batu Sangkar, dan Lembah Harau.
Yang pertama disambangi adalah Danau Maninjau. Perjalanan berlangsung sekitar 2 jam, melewati kelokan-kelokan yang dikenal sebagai Kelokan Empat Puluh Empat, sebab jumlahnya memang ada 44 dan makin lama makin tajam kelokannya. Kalau ada kendaraan dari atas, otomatis kendaraan dari bawah harus berhenti dulu, menunggu sampai yang di atas itu lewat, dan di setiap kelokan selalu membunyikan klakson sebagai tanda bagi kendaraan dari arah berlawanan. Pemandangan sepanjang jalan sungguh luar biasa. Alam sekitar yang hijau sangat menyejukkan mata. Ketika kelokan sudah tinggal belasan, mulai tampak kera-kera kelabu di pinggir jalan. Tidak seperti kera-kera di Sangeh yang suka jahil, kera-kera di sini pemalu dan takut pada manusia. Itu sebabnya mereka baru terlihat di kelokan berangka belasan, sebab di daerah ini hutannya masih lebat dan relatif jauh dari gangguan manusia. Danau Maninjau tampak sangat cantik dilihat dari atas, dan berhubung ada begitu banyak kelokan, danau ini jadi seperti “berpindah-pindah” tempat setiap kali kita berbelok. Kadang danau berada di sebelah kiri, kadang di sebelah kanan. Setelah sampai, baru tampak keramba-keramba di tepi danau. Air danau yang tenang membuat orang senang bermain-main di tepiannya. Cukup banyak homestay di sana, rata-rata penghuninya adalah pelancong mancanegara. Turis-turis lokal biasanya lebih suka keramaian dan tempat-tempat shopping. Menyenangkan sekali bermain-main di danau, masuk ke airnya yang tenang dan mengejar-ngejar ikan-ikan kecil yang kelihatannya mudah ditangkap, tapi tidak pernah berhasil saya sergap. Sebenarnya betah juga main-main seharian di sana, tapi masih ada tempat-tempat lain yang ingin dikunjungi, jadi perjalanan pun dilanjutkan.
Danau Singkarak
Danau ini jauh berbeda dengan Danau Maninjau. Niat untuk main-main di airnya langsung padam begitu melihat air danau yang berombak kencang. Danau ini luas sekali, seperti laut, dan di kejauhan sana tampak deretan Bukit Barisan. Menurut orang setempat, air danau baru tenang selewat jam empat sore. Wah, masih lama sekali. Niat untuk naik perahu juga batal karena angin terlalu kencang. Jadilah cuma duduk-duduk saja di tepian. Menyenangkan sekali mendengar deru angin dan debur ombak, membuat mengantuk. Ditambah lagi suasana sekitar yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung lokal dan mancanegara di sini dan kelihatannya tidak ada homestay, tidak seperti di Maninjau.
Batu Sangkar
Di sini mengunjungi tempat bernama Tabek Patah, untuk menikmati kopi dari daun. Rasa kopi ini unik sekali, seperti teh. Cara membuatnya, daun kopi direbus. Segenggam saja sudah cukup untuk minum berkali-kali, bisa diseduh lagi dan lagi sampai warnanya hilang. Untuk pencandu berat kopi, kopi daun ini mungkin terlalu ringan. Tapi bolehlah untuk selingan. Kedai kopinya juga enak untuk tempat melepas lelah setelah setengah harian berjalan-jalan. Kebetulan ketika saya ke sana, tempat itu tidak terlalu ramai, masih ada beberapa bangku kosong. Kopi bisa diambil sendiri di meja, gratis, ada kopi daun biasa, ada kopi daun strawberi, dan kita juga bisa mencicipi pisang sale yang merupakan makanan khas daerah di sini. Sambil minum kopi, bisa menikmati pemandangan Gunung Singgalang di kejauhan, atau jalan-jalan di kebun kecil di situ.
Lembah Harau
I’m saving the best for last. Buat saya, tempat paling menakjubkan dalam perjalanan kali ini adalah Lembah Harau di Payakumbuh. Tempat ini sungguh fantastis, seperti sebuah Grand Canyon mini, dengan tebing-tebing tegak lurus yang dahsyat serta alam hijau yang asri di sekitarnya. Begitu melihat tempat ini, I know I will come back here for a longer visit. Ada penginapan yang oke di sini, yaitu Echo Homestay. Penginapan minimalis yang terdiri atas bungalow-bungalow bergaya etnik. Interiornya dari kayu, kamar mandinya di luar, beratap langit. Homestay ini letaknya di atas bukit, dan mesti melewati jembatan serta sawah-sawah untuk sampai ke sana. Fasilitasnya bagus, dan ada televisi buat yang tidak bisa hidup tanpa TV. Bisa menyewa sepeda atau sepeda motor untuk jalan-jalan ke kota Payakumbuh dan sekitarnya.
Saya sangat takjub melihat alam di Harau ini, dan saya juga jadi bertanya-tanya, sampai kapan tempat ini akan tetap asri dengan sawah-sawahnya, tebing-tebingnya, dan air-air terjunnya. Buat saya, daya tarik tempat-tempat seperti ini, selain pada keindahan alamnya, adalah pada ketenangannya. It annoys me terribly if the peace and quiet is suddenly disturbed by loud music or thoughtless partying. But it is inevitable, when new hotels start sprouting and more people are coming.
Mumpung masih segar dalam ingatan, berikut ini catatan perjalanan ke Vietnam baru-baru ini.
Bandara Noi Bai di Hanoi cukup bagus, meski bukan bandara besar. Mungkin seukuran bandara di Bali atau Jogja. Setelah membereskan urusan imigrasi dan mengambil bagasi, saya langsung mencari-cari konter Asia Pacific tur. Sejak awal saya memang sudah berniat menggunakan paket tur yang mereka tawarkan, sebab mereka bekerja sama dengan pemerintah Vietnam dan banyak direkomendasikan di blog-blog para traveller yang saya baca. Konter mereka tidak jauh dari pintu keluar. Petugasnya sangat ramah dan bisa berbahasa Inggris lumayan bagus. Saya menanyakan paket ke Halong Bay, tujuan utama saya datang ke Vietnam. Konon rugi besar kalau ke Vietnam tanpa melihat Halong Bay. Semula saya berniat ikut paket satu hari saja, yang harganya USD 32, tapi dia bilang sayang kalau hanya sehari, sebab menikmati Halong Bay tidak akan cukup kalau hanya 5 jam. Dia menyarankan ikut paket 2 hari 1 malam, yang Standar USD 60, Superior USD 79, Deluxe USD 89. Bedanya adalah jenis kapalnya. Kapal Superior dan Deluxe lebih besar dan lebih bagus. Akhirnya saya pilih paket Superior (dan terbukti tidak menyesal memilih ini). Dia juga menyarankan memesan taksi sekalian untuk antar-jemput ke dan dari hotel nanti, sebab taksi-taksi di Vietnam suka memasang tarif tinggi pada orang asing.
Setelah membereskan pembayaran, saya pun naik taksi ke hotel. Taksinya bu
kan taksi resmi, sepertinya mobil pribadi. Ternyata mobil-mobil di sini setir kiri semua. Sepanjang jalan tampak pemandangan kota Hanoi yang benar-benar jadul, seperti di Jakarta zaman Orde Lama. Jarang sekali ada rumah, tempat tinggal didominasi bangunan berlantai 2 atau 3 yang sempit dan panjang. Selain untuk menghindari pajak tinggi, bangunan-bangunan ini biasanya dihuni beberapa generasi dalam keluarga, dan tiap generasi tinggal di lantai yang berbeda. Di jalanan sama sekali tidak ada mobil bagus. Yang banyak adalah sepeda motor. Turun dari taksi, saya menyesal sekali tidak langsung memberikan tip kepada sopirnya. Saya pikir nanti dia juga yang akan menjemput ke hotel untuk mengantar kembali ke bandara. Ternyata tidak.
Old Quarters
Hotel saya terletak di tengah-tengah Old Quarters, di Hang Bac Street yang merupakan pusatnya backpackers. Di Old Quarters ini ada 36 jalan, masing-masing nama jalan menunjukkan jenis barang yang dulu dijual di sana. Hang Bac, misalnya, berarti Silver Street, dan dulu banyak barang-barang kerajinan perak dijual di sini. Tapi sekarang hanya beberapa toko yang benar-benar masih bertahan menjual barang yang menjadi ciri khasnya di jalan tertentu.
Pada pandangan pertama, Old Quarters tampak sangat memusingkan. Penuh toko-toko kecil dan ramai sekali dengan sepeda motor yang berseliweran, saling menyalip dan seperti tanpa aturan. Sebagian besar sepeda motor matic dan banyak juga sepeda motor tua yang sungguh ajaib masih bisa jalan. Dan kelihatannya orang-orang Hanoi suka sekali membunyikan klakson. Bising, ruwet, membuat saya merasa agak sesak napas, biarpun baru melihat dari balik taksi. Apalagi di tengah segala keruwetan itu juga banyak sepeda, cyclo alias becak, dan pedagang keliling. Jalanan-jalanan di Old Quarters ini seperti kaki-kaki gurita yang menyebar ke segala penjuru dan dari semua arah sepeda motor berdatangan.
Saya jadi ingat komentar salah seorang kenalan saya. Ketika tahu saya akan ke Hanoi, dia bilang, “Buat apa ke sana? Gak ada bagus-bagusnya. Panas, kuno, kayak Pasar Jatinegara. Gak ada mal-nya.” Dalam hati saya bilang, “Emang gue kagak nyari mal kok.” Saya tidak terlalu menghiraukan komentar-komentar seperti itu. Berdasarkan pengalaman, saya belajar bahwa sering kali kalau bertanya pada orang yang salah, bisa-bisa merusak mood. Selera orang kan beda-beda, jadi lebih baik dijalani saja langsung.
Buat saya, Old Quarters amat sangat menarik. Sejak dulu saya suka sekali jalan kaki keluar-masuk gang-gang kecil, makan di warung-warung atau rumah makan kecil, atau minum jus di pinggir jalan sambil memandangi orang lewat. Jadi, tidak menyesal datang ke tempat yang tidak ada mal-nya ini. Setelah menaruh tas di hotel, langsung pergi lagi untuk… makan. Jalan kaki sedikit, ketemu rumah makan yang agak besar dan tidak terlalu ramai. Menunya sebagian besar Chinese food, dengan pilihan macam-macam daging, mulai dari ayam, ikan, sapi, babi, bahkan anjing (duh). Enggak terlalu enak (kecuali lumpia-nya, enak sekali), tapi lumayan deh, daripada jalan-jalan dengan perut kosong.
Selesai makan, mulailah menjelajahi Old Quarters. Semula saya berniat menyusuri ke-36 jalan di Old Quarters itu, tapi rasanya bakal gempor deh, lagi pula waktunya tidak akan cukup. Jadi, setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan naik cyclo saja. Di hotel, sudah disarankan agar sebelum naik, dipastikan dulu tarifnya berapa, supaya nanti tidak ada kesalahpahaman. Tapi pada prakteknya, tetap saja si tukang becak ngotot minta bayaran lebih mahal, plus tip.
Anyway, saya keliling-keliling naik cyclo sekitar tiga jam-an, banyak berhenti di sana-sini untuk melihat-lihat. Sebenarnya saya tertarik sekali ingin membeli Ao Dai, baju tradisional Vietnam yang panjang dan dipadukan dengan celana panjang longgar. Tapi setelah beberapa kali mencoba yang sudah jadi, tidak ada yang benar-benar pas. Kayaknya memang lebih baik menjahitkan daripada membeli yang sudah jadi. Banyak toko kain yang bisa sekalian menjahitkan, tapi berhubung saya malas kalau mesti menjahitkan segala, akhirnya batal deh. Lanjut naik cyclo. Rute terakhir adalah melewati Hoan Kim Lake. Di Hoan Kim Lake ini para penduduk lokal bersantai dan berolahraga. Pagi-pagi atau sore biasanya banyak orang tua yang melakukan Taichi di sini. Tapi kalau sudah menjelang gelap harus waspada, sebab banyak copet/jambret yang beroperasi di Danau ataupun mencari sasaran orang-orang yang sedang naik cyclo.
Malam hari, jalan-jalan lagi sekalian makan malam. Banyak penjual makanan di pinggir jalan. Ada satu warung bakmi yang jadi sasaran saya. Sejak siang, sudah berminat makan di situ, tapi kehabisan. Rupanya sore hari warung itu buka lagi. Cepat-cepat saya masuk ke situ dan memesan bakmi. Warung itu sempit sekali, hanya ada dua meja panjang dengan bangku-bangku panjang. Saya kebagian duduk paling pojok, di depan saya ada oma-oma yang sedang makan nasi dan lobak dengan lahapnya. Di atas saya ada kipas angin yang dipasang maksimum. Saya paling tidak tahan kipas angin, padahal di Old Quarters ini di mana-mana ada kipas angin dan semuanya dipasang maksimum. Saya coba mengecilkan nyala kipas itu, tapi enggak bisa. Akhirnya kipas itu dimatikan oleh si Oma yang terus saja senyam-senyum melihat saya, entah kenapa. Baru saja saya senang sedikit karena kipas sudah mati, engkoh-engkoh di ujung bangku mengomel-ngomel sambil cemberut. Rupanya dia kepanasan, apalagi sambil makan bakmi yang panas dan pedas. Yaah, akhirnya dinyalakan lagi deh kipas itu. O ya, bakminya enak, khas bakmi Vietnam, kuahnya segar sekali, apalagi setelah ditambah perasan jeruk. Tapi terlalu banyak pork-nya. Daripada mabok, semua pork saya singkirkan.
Acara jalan-jalan diakhiri jam sepuluh malam. Besok mesti bangun pagi-pagi, sebab akan pergi ke Halong Bay.
Halong Bay
Will be leaving for Vietnam in a few days. Have been planning what to see and visit. Due to the very limited time, I think I’ll just go around Hanoi a bit, and of course to Halong Bay. It’s a must, so they said who had been there. I would like to go to Ho Chi Minh City as well, doing a bit of trekking, and take a boat along the Mekong River delta. But these must wait. Hopefully another time.
What I hate most in travelling is packing and sitting still in an airplane. I’m always travelling as light as possible, but still the task of choosing which clothes and shoes and other necessities to take with me is a chore and a bore. And I am almost always restless during the flight. Reading, computer games, or watching movies are not for me, since I cannot really focus on such things during a flight. It’s good that the flight to Vietnam will only take a couple of hours from KL, so I won’t be cooped up for too long in the plane.
You can say that this trip is not really well-planned. It’s more or less spontaneous. I’ve been thinking about going to Vietnam for a couple of years but never really put my mind to it. Then one day suddenly the time seems just right, and everything starts to fall into place.
Hopefully things will turn out well and enjoyable too. I’ll be back with the Vietnam trip report later.







Recent Comments